Kerajaan-kerajaan Hindu Tertua di Indonesia

Published September 21, 2012 by ika11fatmahwati

KERAJAAN KUTAI
1. Sejarah
a) Asal-usul Penamaan Kutai
 C.A. Mees, ahli sejarah asal Belanda, di mana dalam disertasinya yang mengangkat judul “De Kroniek van Kutai” (ditulis pada tahun 1935), Mees meyakini bahwa nama Kutai berasal dari kata “koti” yang berarti “ujung”. Keyakinan Mees ini cukup beralasan mengingat posisi Kutai yang terletak di ujung timur pulau Kalimantan (Mees dalam Anwar Soetoen, et.al., 1975:21).
 Penamaan Kutai berasal dari kosakata Cina, yakni “kho-thay”. Kata “kho” dapat dimaknai sebagai “kerajaan”, sedangkan “thay” berarti “besar”. Jadi, kata “kho-tay”, yang lantas diucapkan dengan pelafalan “Kutai”, memiliki arti “kerajaan yang besar”.
 Dalam Negarakrtagama, nama Kutai disebutkan dengan istilah “Tunyung Kute” atau dapat juga ditafsirkan sebagai “Tunjung Kutai”. Mengenai penafsiran ini, T.B.C. Brandes, sejarawan asal belanda, meletakkan dasar pemikiranyya pada kondisi yang sebenarnya bahwa di perdalaman sungai mahakam terdapat suatu daerah yang dikenal dengan nama tunjung, sebuah dataran tinggi yang didiami oleh orang-orang suku dayak tunjung.

Beberapa Sumber Lokal:
 Dalam “Silsilah Raja-raja Kutai”, mengupas tentang asal-usul nama Kutai dalam sepenggal cerita:
…. Setelah sudah maka Aji Batara Agung Dewa Sakti pun berkumpullah laki-isteri; dengan selamat sempurnanya kira-kira sedang lamanya Aji itu dua laki-isteri, maka mengidamlah ia hendak baluran lulu sumpitan, maka Aji itu pun pergilah menyumpit lulu. Maka tiada mendapat lulu yang lain, hanya tupai saja seekor (yang sedang) makan buah petai, lalu disumpitnya. Maka kenalah tupai itu (dan) gugur ke tepian MAMPI. Maka dikelililingilah benua itu, maka bunyi Aji itu: “Terlalu baik negeri ini. Baiklah, aku pindah ke negeri ini (dan) berbuat negeri di sini”. Maka, tanah tempat Aji itu berdiri menyumpit tupai itulah tanah yang bernama tanah KUTAI karena tanah itu tinggi sendirinya …. (C. Hoykaas, 1952:214).
 Tradisi Lisan yang beredar di masyarakat setempat: mempercayai bahwa nama daerah mereka berasal dari istilah “mampi” atau “kumpai”. Kedua istilah ini dapat ditafsirkan sebagai nama suatu jenis tumbuh-tumbuhan yang mempunyai habitat di tepi sungai atau pantai. Istilah “mampi” sendiri juga telah disebutkan dalam Silsilah Raja-raja Kutai pada isi kutipan seperti yang telah disebutkan di atas (Soetoen, et.al., 1975:22).
 Nama tambahan “Kartanegara” yang digunakan sejak Kerajaan Kutai Martapura dikalahkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke-17 M, diyakini berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “krta” dan “nagara”. Kata “krta” mempunyai makna “peraturan”, sedangkan “nagara” dapat diartikan sebagai “negara”, “kerajaan”, “pemerintahan”, atau “ibukota”. Dengan demikian, Kutai Kartanegara dapat diartikan sebagai: “negara, kerajaan, atau pemerintahan yang sudah teratur”.

2. Petunjuk Keberadaan Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai Martapura adalah kerajaan bercorak Hindu yang menempati pusat pemerintahannya di hulu Sungai Mahakam, tepatnya di sebuah tempat bernama Muara Kaman. Sebelum diketahui dan diyakini sebagai kerajaan yang paling tua dalam sejarah nusantara, sangat sulit untuk melacak sumber-sumber yang menjelaskan keberadaan Kerajaan Kutai Martapura. Hal itu disebabkan karena ketersediaan data-data tentang peradaban di Borneo pada masa purba masih sangat langka.
Kelangkaan data itu bahkan dijumpai juga pada catatan-catatan yang ditulis oleh para pengelana dari Cina. Kaum musafir dari Cina biasanya sangat rajin menuliskan hal-hal yang mereka temui dan ketahui yang berkaitan dengan suatu daerah asing yang mereka singgahi selama perjalanan. Menurut W.P. Groeneveldt seperti yang dikutip dari buku Sejarah Nasional Indonesia II karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (1993), luputnya ulasan tentang pulau Kalimantan oleh para periwayat dari Cina ini cukup menarik. Hal ini disebabkan karena catatan-catatan dari Cina yang berhubungan dengan Jawa dan Sumatra sudah ada sejak abad ke-5 dan ke-6 M, tepatnya pada masa pemerintahan Dinasti Liang yakni sekitar tahun 502-506 M (Groeneveldt dalam Poesponegoro & Notosusanto, 1993:29).
Sementara itu, Tom Harrison dan Stanley J.O. Connor (1970) memiliki dasar pendapat yang berbeda. Tidak adanya perhatian dari para penulis Cina terhadap sejarah awal peradaban di Borneo boleh jadi dikarenakan karena pulau ini tidak terletak pada jalan utama perdagangan yang dilalui oleh para pedagang yang datang dari Cina. Ternyata memang bukan pengaruh dari Cina yang pertama kali ditemukan di wilayah Borneo bagian timur, melainkan sisa-sisa peradaban yang mirip dengan kebudayaan dari India. Di Kota Bangun yang kelak dikenal sebagai wilayah Kutai, ditemukan arca-arca yang dibuat dari perunggu. Penelitian yang dilakukan oleh A.J. Bernet Kempers (1959) menyimpulkan bahwa berdasarkan ciri-ciri ikonografinya, arca-arca yang ditemukan di Kutai tersebut berasal dari langgam seni Gandara, India. Besar kemungkinan, arca-arca itu dibuat di India dan kemudian dibawa ke wilayah nusantara (termasuk Kutai) sebagai barang dagangan (Kempers, 1959:31). Disamping arca-arca Budha juga ditemukan arca yang memperlihatkan sifat-sifat kehinduan, diantaranya Muikhalinga yang ditemukan di Sepauk, dan arca Ganesha yang ditemukan di Serawak.
“Mees” menambahkan data yang lebih banyak lagi dengan menyatakan bahwa di dalam Gua Kong Beng yang terletak di Sungai Pantun, anak cabang Sungai Kedang Rantau dengan Sungai Mahakam sebagai sungai induknya, ditemukan sekurang-kurangnya 12 arca yang berupa arca Ciwa (Syiwa), Wisnu, dan Ganeca (Ganesha) (Mees dalam Soetoen, et.al., 1975:43).
Penemuan yang paling diandalkan sebagai sumber yang menyatakan bahwa Kerajaan Kutai Martapura adalah kerajaan tertua di nusantara adalah yupa atau tiang/tugu batu. Jumlah yupa yang ditemukan di Muara Kaman adalah sebanyak 7 buah tiang batu. Menurut hasil kajian yang dilakukan oleh J.G. de Casparis (1949), yupa-yupa di kawasan Muara Kaman yang diduga kuat sebagai peninggalan peradaban Kerajaan Kutai Martapura ditemukan berturut pada tahun 1879 dan 1940 (Casparis dalam J. Ph. Vogel, 1974:370).
Dalam yupa-yupa tersebut, ditemukan juga catatan prasasti, antara lain berupa tulisan dengan aksara Pallawa yang ditulis dalam bahasa Sanskerta. Huruf yang dipahatkan pada yupa-yupa itu diduga berasal dari akhir abad ke-4 atau awal abad ke-5 M. Semua tugu batu tersebut dikeluarkan atas titah seorang pemimpin yang diketahui bernama Maharaja Mulawarman Naladewa. Menurut Poesponegoro & Notosusanto (1993), Mulawarman diduga kuat adalah orang Indonesia karena nama kakeknya, yakni Kundunga (ada juga yang menyebut Kudungga atau Kundungga) adalah nama asli nusantara (Poesponegoro & Notosusanto, 1993:31). Kundunga inilah yang diyakini cikal-bakal pemimpin pertama Kerajaan Kutai Martapura, sementara Mulawarman adalah penerus Aswawarman (anak Kundunga) yang membawa Kerajaan Kutai Martapura pada masa-masa puncak kejayaannya.
R.M. Ng. Poerbatjaraka (1952) menafsirkan rangkaian huruf Pallawa berbahasa Sanskerta yang tercatat pada yupa tentang silsilah raja-raja yang pernah berkuasa pada masa-masa awal Kerajaan Kutai Martapura dalam terjemahan bebas sebagai berikut:
Sang Maharaja Kundunga yang teramat mulia mempunyai putra yang masyhur, Sang Aswawarman namanya, yang seperti Sang Ansuman (Dewa Matahari) yang menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai tiga orang putra seperti tiga api yang suci. Yang terkemuka dari ketiga putra tersebut adalah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan upacara selamatan yang menggunakan emas yang sangat banyak. Sebagai peringatan upacara itu didirikan tugu batu oleh para brahmana (Poerbatjaraka, 1952:9).
3. Kehidupan Politik
o Kundunga sebagai cikal-bakal yang kelak menurunkan raja-raja Kerajaan Kutai Martapura ditengarai belum berkedudukan sebagai raja, melainkan hanya sebagai pemimpin komunitas atau kepala keluarga. Dengan demikian, Kutai Martapura pada masa Kundunga relatif belum mempunyai sistem pemerintahan yang teratur dan sistematis.
o Aswawarman, anak Kundunga, disebut-sebut sebagai orang yang mencetuskan pendirian Kerajaan Kutai Martapura, salah satunya dengan menggagas dinasti keluarga kerajaan sehingga Aswawarman diberi gelar Wangsakerta. Pada masa kepemimpinan Aswawarman ini, Kerajaan Kutai Martapura diduga sudah mulai menggagas tata pemerintahan.
o Sistem pemerintahan yang berlaku di Kerajaan Kutai Martapura pada masa Aswawarman diperkirakan masih bersifat Indiasentris di mana banyak dipengaruhi oleh para pendeta asli India. Sebagai contoh adalah ketika Aswawarman melaksanakan upacara vratyastoma. Upacara ini adalah ritual penyucian diri yang harus dilakukan Aswawarman agar diterima di kalangan kasta ksatria. Menurut Poesponegoro & Notosusanto (1993), dapat dipastikan bahwa pendeta yang memimpin upacara vratyastoma adalah para brahmana Hindu yang datang atau didatangkan dari India (Poesponegoro & Notosusanto, 1993:35).
o Pada era pemerintahan Mulawarman, yakni yang berlangsung antara akhir abad ke-4 hingga awal abad ke-5 M, Kerajaan Kutai Martapura sudah memiliki sistem pemerintahan yang relatif teratur. Hal tersebut salah satunya ditandai dengan sudah adanya penggolongan atau klasifikasi antara keluarga kerajaan dengan rakyat biasa.
o Dua golongan teratas, yakni kaum brahmana dan ksatria, terdiri dari orang-orang terpilih, yakni orang-orang yang dekat atau kerabat Maharaja Mulawarman. Kedua kaum ini hidup dalam lingkungan elit, yakni seperti dalam suasana peradaban kerajaan yang berlaku di India. Sementara itu, di luar golongan elit terdapat golongan lain, yakni rakyat biasa yang terdiri dari penduduk setempat (Poesponegoro & Notosusanto, 1993:36).
Wilayah Kekuasaan
o Dari prasasti yang tertulis pada yupa, dapat diperoleh informasi bahwa Kerajaan Kutai Martapura didirikan di sebuah tempat bernama Muara Kaman yang sekarang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Muara Kaman berlokasi di pertemuan Sungai Mahakam dengan salah satu anak sungainya, yakni Sungai Kedang Rantau.
o Wilayah yang termasuk ke dalam daerah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura pada masa sekarang telah menjadi wilayah dari tiga kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, yakni: Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota di Sendawar, Kabupaten Kutai Kartanegara yang berpusat di Tenggarong, dan Kabupaten Kutai Timur dengan Sangatta sebagai ibukota kabupatennya. Hampir seluruh tempat yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kutai Martapura pada akhirnya diambil-alih oleh Kerajaan Kutai Kartanegara yang kemudian berganti nama menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
4. Kehidupan Budaya
 Penemuan itu adalah ditemukannya sebuah kalung Ciwa (Syiwa) di sekitar Danau Lipan yang lokasinya termasuk di kawasan Muara Kaman. Bahkan, berdasarkan hasil penemuan terbaru yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Kalimantanthrope dalam penyelidikannya yang berakhir pada tanggal 20 Juni 2001, ditemukan lukisan pada dinding-dinding goa di kawasan Gunung Marang, sekitar 400 kilometer di sebelah utara Balikpapan, beserta pecahan-pecahan perkakas tembikar dan sejumlah makam (Prihananto, Kompas, 3 November 2004).
 Dalam artikel di harian umum Kompas yang ditulis oleh Prihananto (2004) dengan judul “Sejarah kita berawal dari Kutai”, disebutkan bahwa dari penggalian di lokasi situs sejarah Kerajaan Kutai di Muara Kaman juga ditemukan berbagai artefak, seperti sisa-sisa atau reruntuhan candi berupa peripih, manik-manik, gerabah, patung perunggu, dan keramik yang sangat indah.
5. Kehidupan Sosial/Masyarakat dan Agama
Dari parasasti-prasasti Mulawarman, dapat memberikan petunjuk tentang kehidupan masyarakat Kutai masa itu, yaitu:
o Sudah ada sebagian penduduk Kutai Purba yang hidup dalam suasana peradaban India. Bahasa Sansekerta digunakan sebagai bahasa resmi untuk masalah keagamaan, sehingga dapat disimpulkan telah ada golongan mayarakat yang menguasai bahasa Sansekerta. Masyarakat itu adalah kaum Brahmana yang merupakan golongan tersendiri dalam masyarakat Kutai Purba.
o Golongan lainnya adalah kaum Ksatria, yang terdiri dari kaum kerabat Mulawarman (golongan tersebut terbatas pada orang-orang yang erat dengan raja).
o Diluar golongan tersebut, terdapat golongan diluar pengaruh India, yaitu masyarakat Kutai purba. Penduduknya masih memegang teguh agama asli leluhur mereka.
Di dalam kehidupan keagamaan dapat kita telaah dari isi prasasti yang membicarakan Upacara selamatan di dalam memperingati kebaikan yang dilakukan oleh Mulawarman. Disebutkannya nama Ansuman (Dewa Matahari), memeberikan kepastian bahwa Mulawarman adalah penganut agama Hindu. Dalam prasati juga ditegaskan bahwa upacara yang dilakukan Mulawarman bertempat disebidang tanah suci ”Waprakeswara” yang dikenal kembali dipulau Jawa sebagai “Baprakeswara” yang diketahui selalu berhubungan dengan 3 Dewa Besar, Brahma-Wisnu-Siwa. Dari keterangan pendek itu, dinyatakan bahwa agama yang dipeluk oleh Sang Raja Mulawarman adalah agama Siwa.

KERAJAAN TARUMANEGARA
1. Sumber-sumber
 Dalam Buku “Geographicke Hyphegesis”, ahli ilmu bumi Yunani bernama Claudius Ptolomeus, menyebutkan sebuah kota bernama “Argyre” yang terletak di ujug barat pulau Labadiou.
Labadiou disesuaiakan dalam bahasa Sansekerta “Yawadwipa, yang berarti pulau Jelai adalah Pulau Jawa.
Argyre berarti Perak, dalam literatur lain terjemahan dari merak, yang terletak disebelah barat pulau Jawa.
Ada pendapat lain, bahwa Labadiou tidak mengacu pada pulau Jawa, tetepi Sumatra atau bahkan Kalimantan Barat daya.
 Mengenai sumber-sumber yang berhubungan dengan Tarumanegara boleh dikatakan sedikit sekali. Sampai saat ini yang sudah diketahui hanyalah 7 buah prasasti batu, berita Cina dari Fa-hsien th 414 dinasti Soui dan Tang. Tujuh buah prasasti batu yang ditemukan Lima di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten.
 Prasasti-prasasti:
1. Prasasti Ciaruteun/Ciampea, Bogor
Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Yang menarik dari prasasti ini adalah lukisan labah-labah dan tapak kaki yang dipahatkan diatas hurufnya. Prasasti ini terdiri dari 4 baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama “anustubh”.
2. Prasasti Pasir Koleangkak, Bogor
Termasuk di daerah perkebunan Jambu. Di dalam prasasti itu dijumpai nama negara, pertama kalinya dikemukakan “Brandes” dan menurut bacaannya berbunyi “Tarumayam” . sementara ada yang menghubungkan dengan kata “Utsadana” yang terdapat pada baris 2 prasasti tersebut, dengan nama sebuah sungai besar yaitu “Cisadane”.
3. Prasasti Kebon Kopi
Terletak dikampung Muara Hilir, Cibungbulang. Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya dua tapak kakigajah yang dipersamakan dengan tapak kaki gajah “Airawrata”.
4. Prasasti Tugu, Jakarta
ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti Tugu merupakan prasasti terpanjang, tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang secara melingkar. Ada beberapa hal yang menarik dari prasasti ini dibandingkan dengan prasasti Purnawarman lainnya:
o Didalamnya disebutkan nama 2 buah sungai yang terkenal di Panjab, yaitu sungai-sungai Chandrabhaga dan Gomati.
o Walaupun tidak lengkap, prasasti ini merupakan satu-satunya prasasti Purnawarman yang menyebutkan anasir penanggalan.
o Prasasti menyebutkan dilakukannya pacara selamatan oleh Brahmana disertai dengan 1000 ekor sapi yang dihadiahkan.

5. Prasasti Pasir Awi dan Muara Cianten, Citeureup Bogor
Tertulis dalam aksara ikal yang belum dapat dibaca.
6. Prasasti Cidanghiang atau Lebak, Banten
Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisis 2 baris huruf yang merupakan 1 Sloka dalam metrum Anustubh. Hurufnya pallawa.
Sumber berita dari luar negeri (Tiongkok)
 Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti (Jawadwipa) hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan “Beragama Kotor” (maksudnya animisme). Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa, tetapi ada pendapat lain yang mengajukan bahwa Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dan lain-lain yang sekarang terletak di taman purbakala Pugung Raharjo, meskipun saat ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tetapi tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yg menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa hien.
 Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo (“Taruma”) yang terletak di sebelah selatan.
 Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.

2. Kehidupan Masyarakat
Segi yang sangat penting didalam kehidupan suatu masyarakat adalah mata pencaharian masyarakatnya, antara lain sbb:
o Perburuan: adanya cula badak dan gading gajah yang diperdagangkan binatang tersebut bersifat liar, untuk mendapatkannya harus dilakukan perburuan.
o Perikanan: kulit penyu merupakan barang dagangan yang sangat digemari saudagar dari Cina.
o Pertambangan: diperdagangkannya emas dan perak sebagai salah satu hasil daerah itu.
o Perniagaan dan pelayaran; perdagangan dari hasil-hasil daeah
o Pertanian dan peternakan: dalam prasasti Tugu disebutkan usaha pembuatan saluran yang dilakukan pada tahun ke 22 pemerintahan Purnawarman, yang berfungsi untuk mengatasi banjir yang selalu melanda daerah pertanian. Disamping itu, ditemukan beberapa alat terbuat dari batu yang erat kaitannya dengan pertanian dan perladangan. Penghadiahan 1000 ekor sapi kepada brahmana dalam upacara selamatan menandakan peternakan sudah berkembag.
3. Kehidupan Sosial dan Budaya
Terdapat 2 golongan dalam masyarakat:
 Gol. Masyarakat berbudaya Hindu terbatas pada gol. Keraton saja
 Gol. Masyarakat berbudaya asli sebagian besar penduduk tarumanegara
Kedua gol tersebut dalam kehidupan sehari-hari tidak saling terpisah, dalam beberapa hal mereka saling bekerjasama.
Kepurbakalaan Masa Tarumanagara:
• Kampung MuaraMenhir, batu dakon, arca batu tidak berkepala.
• Gunung Cibodas Arca brahma, Arca singa (perunggu) Mus.Nas.no.771
• Tanjung Barat Arca siwa (duduk) perunggu Mus.Nas.no.514a
• Tanjungpriok Arca Durga-Kali Batu granit Mus.Nas. no.296a

4. Kehidupan Politik dan Agama
Menurut prasasti Tugu, ayah Purnawarman berkedudukan sebagai rajadiraja guru dan telah menggali terusan Chandrabhaga, sedangkan Purnawarman sendiri menggali terusan Gomati. Hadiah yang diberikan Purnawarman berupa 1000 ekor sapi, menunjukkan adanya hubungan erat dengan kepercayaan Veda.
Prasasti Ciaruteun juga menunjukkan hal-hal yang dekat dengan kepercayaan Veda, karena selain menyamakan kedua kaki Purnawarman dengan kaki Wisnu, telapak kaki itu dilukiskan pula, bahkan kata Vikranta yang terdapat pada baris 1 berarti menyerang. Rupanya sengaja dihubungkan dengan trivikrama, atau tiga langkah Wisnu untuk mengelilingi dunia.
Pada prasasti Jambu, Purnawarman disamakan dengan Indra yang elain dikenal sebagai dewa perang, memiliki pula sifat-sifat sebagai dewa matahari. Dari semua berita itu jelas, bahwa kepercayaan di daerah Jawa Barat pada jaman Tarumanegara sangat erat kaitannya dengan kepercayaan Veda.

KERAJAAN KALINGGA/HOLLING
1. Lokasi Kerajaan

Berita Cina berasal dari Dinasti Tang menyebutkan bahwa letak Kerajaan Holing berbatasan dengan Laut Sebelah Selatan, Ta-Hen-La (Kamboja) di sebelah utara, Po-Li (Bali) sebelah Timur dan To-Po-Teng di sebelah Barat. Nama lain dari Holing adalah Cho-Po (Jawa), sehingga berdasarkan berita tersebut dapat disimpulkan bahwa Kerajaan Holing terletak di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. J.L. Moens dalam menentukan letak Kerajaan Holing meninjau dari segi perekonomian, yaitu pelayaran dan perdagangan. Menurutnya, Kerajaan Holing selayaknya terletak di tepi Selat Malaka, yaitu di Semenanjung Malaya. Alasannya, Selat Malaka merupakan selat yang sangat ramai dalam aktifitas pelayaran perdagangan saat itu. Pendapat J.L. Moens itu diperkuat dengan ditemukannya sebuah daerah di Semenajung Malaya yang bernama daerah Keling.

2. Sumber Sejarah
I-Tsing menyebutkan bahwa seorang temannya bernama Hui-Ning dengan pembantunyabernama Yunki pergi ke Holing tahun 664/665 M untuk mempelajari ajaran agama Buddha. Ia juga menterjemahkan kitab suci agama Buddha dari bahasa Sansekerta ke bahasa Cina. Dalammenerjemahkan kitab itu, ia dibantu oleh pendeta agama Buddha dari Holing yang bernamaJnanabhadra. Menurut keterangan dari Dinasti Sung, kitab yang diterjemahkan oleh Hui-Ningadalah bagian terakhir kitab Parinirvana yang mengisahkan tentang pembukaan jenazah SangBuddha.

3. Kehidupan Politik
Berdasarkan berita Cina disebutkan bahwa Kerajaan Holing diperintah oleh seorang raja putriyang bernama Ratu Sima. Pemerintahan Ratu Sima sangat keras, namun adil dan bijaksana.Rakyat tunduk dan taat terhadap segala perintah Ratu Sima. Bahkan tidak seorang pun rakyatatau pejabat kerajaan yang berani melanggar segala perintahnya.

4. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Holing sudah teratur rapi. Hal ini disebabkan karenasistem pemerintahan yang keras dari Ratu Sima. Di samping ini juga sangat adil dan bijaksanadalam memutuskan suatu masalah. Rakyat sangat menghormati dan mentaati segala keputusanRatu Sima.

5. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan perekonomian masyarakat Kerajaan Holing berkembang pesat. Mereka menjalin hubungan perdagangan padasuatu tempat yang disebut dengan pasar. Pada pasar itu, mereka mengadakan hubunganperdagangan dengan teratur. Wilayah perdaganganya meliputi laut China Selatan sampai pantai utara Bali.Tetapi perkembangan selanjutnya sistem perdagangan Holing mendapat tantangan dariSrivijaya, yang pada akhirnya perdagangan dikuasi oleh Srivijaya.

KERAJAAN MELAYU
Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Tionghoa ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso[1] atau Pagaruyung[2].
Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melakasebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682[3].
Penggunaan kata Melayu, telah dikenal sekitar tahun 100-150 seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan maleu-kolon[4]. Dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air.
]Sumber Berita Cina
Berita tentang kerajaan Melayu antara lain diketahui dari dua buah buku karya Pendeta I Tsing atau I Ching (義淨; pinyin Yì Jìng) (634-713), yang termasyhur yaitu Nan-hai Chi-kuei Nei-fa Chuan (Catatan Ajaran Buddha yang dikirimkan dari Laut Selatan) sertaTa-T’ang Hsi-yu Ch’iu-fa Kao-seng Chuan (Catatan Pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India zaman Dinasti Tang)[5] dalam pelayarannya dari Cina ke India tahun 671, singgah di Sriwijaya enam bulan lamanya untuk mempelajari Sabdawidya, dan menerjemahkan naskah-naskah Buddha dari bahasa Sanskerta ke bahasa Tionghoa.[6][7]
Kisah pelayaran I-tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri, dengan terjemahan sebagai berikut[8]:
“ “Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan …. Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Beliau menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah …. Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar) …. Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India)” ”
Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan oleh I-tsing sebagai berikut[5]:
“ “Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke Cina. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua …. Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Malayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Malayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.” ”
Menurut catatan I Tsing, Sriwijaya menganut agama Buddha aliran Hinayana, kecuali Ma-la-yu. Tidak disebutkan dengan jelas agama apa yang dianut oleh kerajaan Melayu.
Berita lain mengenai kerajaan Melayu berasal dari T’ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang p’u pada tahun 961, kerajaan Melayu mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kalinya, namun setelah munculnya Sriwijaya sekitar 670, kerajaan Melayu tidak ada lagi mengirimkan utusan ke Cina.[9]
Lokasi Pusat Kerajaan
Dari uraian I-tsing jelas sekali bahwa Kerajaan Melayu terletak di tengah pelayaran antara Sriwijaya dan Kedah. Jadi Sriwijaya terletak di selatan atau tenggara Melayu. Hampir semua ahli sejarah sepakat bahwa negeri Melayu berlokasi di hulu sungai Batang Hari, sebab pada alas arca Amoghapasa yang ditemukan di Padangroco terdapat prasasti bertarikh 1208 Saka (1286) yang menyebutkan bahwa arca itu merupakan hadiah raja Kertanagara (Singhasari) kepada raja Melayu[10].
Prof. Slamet Muljana berpendapat, istilah Malayu berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sanskerta bermakna “bukit”. Nama sebuah kerajaan biasanya merujuk pada nama ibu kotanya. Oleh karena itu, ia tidak setuju apabila istana Malayu terletak di Kota Jambi, karena daerah itu merupakan dataran rendah. Menurutnya, pelabuhan Malayu memang terletak di Kota Jambi, tetapi istananya terletak di pedalaman yang tanahnya agak tinggi. Dan menurut prasasti Tanjoreyang dikeluarkan oleh Rajendra Chola I bertarikh 1030, menyebutkan bahwa ibu kota kerajaan Malayu dilindungi oleh benteng-benteng, dan terletak di atas bukit[9].
Dari keterangan Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ahli geografi Persia, yang pernah mengunjungi Asia Tenggara tahun 1030 dan menulis catatan perjalanannya dalam Tahqiq ma li l-Hind (Fakta-fakta di Hindia) yang menyatakan bahwa ia mengunjungi suatu negeri yang terletak pada garis khatulistiwa pulau penghasil emas atau Golden Khersonese yakni pulau Sumater

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: